Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bahwa penyelidikan pidana yang diluncurkan oleh jaksa federal bermotif politik. Ia berpendapat bahwa itu berawal dari penolakan bank sentral untuk menyesuaikan kebijakan suku bunga sesuai keinginan Presiden.

Tindakan ini muncul ketika masa jabatan Powell akan berakhir pada Mei 2026 di tengah meningkatnya ketegangan dengan Presiden Donald Trump.

Ketua Federal Reserve Kaitkan Penyelidikan Kriminal dengan Kebuntuan Kebijakan Suku Bunga

Dalam sebuah video terbaru, Ketua Federal Reserve Powell mengungkapkan bahwa Departemen Kehakiman AS mengirimkan surat panggilan sidang dewan juri ke The Fed pada hari Jumat. Menurut Powell, langkah tersebut disertai ancaman dakwaan pidana yang terkait dengan kesaksian yang ia sampaikan di hadapan komite Senat tahun lalu soal renovasi kantor pusat bank sentral di Washington, DC senilai US$2,5 miliar.

namun, Powell menggambarkan tindakan itu sebagai “belum pernah terjadi sebelumnya.” Ia menambahkan bahwa hal tersebut perlu dilihat dalam konteks tekanan dan ancaman yang terus-menerus dari pihak administrasi.

Ia menekankan bahwa Federal Reserve selalu memberikan informasi kepada Kongres mengenai renovasi tersebut melalui kesaksian dan pengungkapan publik. Powell menegaskan bahwa klaim terkait proyek itu hanya jadi dalih. Powell mengaitkan penyelidikan Departemen Kehakiman ini dengan perselisihan kebijakan yang sedang berlangsung.

“Ancaman tuduhan pidana ini adalah akibat dari Federal Reserve menetapkan suku bunga berdasarkan kajian terbaik kami demi kepentingan publik, bukan mengikuti kehendak Presiden,” tutur dia. “Ini tentang apakah The Fed akan bisa terus menetapkan suku bunga dengan pertimbangan data dan kondisi ekonomi — atau justru kebijakan moneter akan diarahkan oleh tekanan politik atau intimidasi.”

Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada paruh kedua tahun 2025. Penurunan terakhir terjadi bulan Desember, menempatkan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Bank sentral tersebut juga mengakhiri program pengetatan kuantitatif pada 1 Desember 2025.

Trump Bantah Tahu Soal Penyelidikan DOJ terhadap Federal Reserve

Patut dicatat bahwa sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari 2025, Presiden Trump berulang kali mengkritik Powell karena dinilai kurang agresif dalam memangkas suku bunga dan bahkan sempat menyebut kemungkinan untuk mencopotnya dari jabatan.

namun, dalam wawancara dengan NBC, Trump mengaku tidak tahu soal penyelidikan Departemen Kehakiman terhadap Federal Reserve.

“Saya tidak tahu apa-apa soal itu, tapi dia memang tidak terlalu baik di The Fed, dan dia pun tak terlalu bagus dalam membangun gedung,” ucap Trump pada hari Minggu.

Ia menambahkan bahwa pemanggilan dari DOJ itu tidak ada kaitannya dengan kebijakan suku bunga.

“Tidak. Saya bahkan tidak terpikir melakukan itu dengan cara begitu. Yang seharusnya memberinya tekanan adalah fakta bahwa suku bunga sudah terlalu tinggi. Itu satu-satunya tekanan yang ia dapat,” terang Trump.

Sementara itu, dengan masa jabatan Powell yang akan habis pada Mei 2026, Presiden Donald Trump makin dekat dalam memilih pemimpin baru Federal Reserve. Fox News melaporkan bahwa Trump telah mengerucutkan daftar kandidat menjadi empat nama: Kevin Hassett, Kevin Warsh, Christopher Waller, dan Rick Rieder.

Menurut laporan tersebut, Trump tinggal melakukan satu wawancara lagi sebelum mengambil keputusan akhir. Pada bulan Desember, ia menyampaikan bahwa Ketua The Fed berikutnya adalah orang yang “percaya suku bunga harus jauh lebih rendah.”

Kevin Hassett, ekonom konservatif lama sekaligus penasihat ekonomi utama Trump, dipandang luas sebagai kandidat terkuat pengganti Powell.