Meme coin NYC milik mantan Wali Kota New York City, Eric Adams, menuai kritik tajam dari komunitas aset kripto setelah anjlok lebih dari 80%, sehingga kapitalisasi pasarnya turun di bawah US$100 juta.
Baik Adams maupun tim proyeknya membantah melakukan kesalahan, tapi pergerakan likuiditas yang tidak lazim menimbulkan kekhawatiran, sehingga beberapa analis menilai token ini berpotensi sebagai rug pull. Dalam wawancara eksklusif bersama BeInCrypto, seorang analis dari Nansen menjabarkan 4 alasan mengapa token NYC nampaknya masuk ke dalam kategori “rug pull” secara lebih luas.
Sekitar 60% Trader Alami Kerugian setelah NYC Token Mengalami Koreksi Besar
Awal pekan ini, BeInCrypto melaporkan bahwa Adams memperkenalkan token tersebut di Times Square. Nilainya sempat melonjak tak lama setelah peluncuran, namun reli itu tidak bertahan lama.
“MANTAN WALIKOTA NYC BARU SAJA MELAKUKAN RUGPULL. Koin itu langsung menyentuh kapitalisasi pasar US$500 juta sebelum Eric menarik likuiditas dari koin tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan besar hingga 80% dan token itu jatuh di bawah US$100 juta,” posting Ash Crypto .
Baca Juga: 3 Mata Uang Kripto Incaran Institusi, Apa Saja?
Analis di blockchain menemukan perilaku likuiditas yang aneh. Rune Crypto menuduh Adams telah menarik US$3,4 juta dari liquidity pool token ini. Bubblemaps juga mengidentifikasi aktivitas likuiditas yang mencurigakan.
Dalam sebuah posting terpisah, Bubblemaps menyoroti dampak negatif dari token NYC. Sekitar 4.300 trader berinteraksi dengan token NYC, di mana kira-kira 60% mencatatkan kerugian.
2.300 trader kehilangan kurang dari US$1.000.
200 trader mengalami kerugian antara US$1.000 sampai US$10.000.
40 trader kehilangan antara US$10.000 hingga US$100.000.
15 trader mengalami kerugian lebih dari US$100.000.
Apakah NYC Token Kena Rug Pull?
Nicolai Sondergaard, Research Analyst di Nansen, menyampaikan kepada BeInCrypto bahwa alasan token NYC bisa di kelompokkan bersama rug pull lainnya adalah karena cara mereka menarik likuiditas. Analis ini menguraikan 4 alasan utama:
Tim tidak membuat pengumuman sebelumnya terkait rencana “rebalance” likuiditas.
Sejumlah besar likuiditas di tarik dalam waktu yang sangat singkat, bukan secara bertahap.
Likuiditas yang di tarik tidak sepenuhnya di kembalikan ke pool.
Likuiditas baru di tarik setelah token mencapai level tinggi.
“Kalau ini memang langkah yang sah, saya pasti mengharapkan perubahan kecil serta ada pemberitahuan sebelumnya kalau akan ada pergeseran. Hal seperti ini sepertinya tidak akan berdampak negatif pada token,” komentar Sondergaard.
Ia menerangkan bahwa penarikan likuiditas, bahkan jika hanya sebagian, secara signifikan meningkatkan dampak dari satu order jual. Order jual yang biasanya tidak akan banyak mempengaruhi harga saat kondisi likuiditas normal, kini bisa menggerakkan pasar jauh lebih besar, seringkali memicu kepanikan, gelombang aksi jual, dan bahkan memaksa trader dengan limit order keluar dari posisinya.
“Apa yang mereka lakukan pada dasarnya menjebak para trader, sehingga banyak yang terpaksa menjual dengan kerugian di kondisi likuiditas rendah. Menambahkan likuiditas kembali pun tidak bisa memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi. Demikian pula dengan memasang order DCA, itu hanya solusi tambal sulam,” ujar analis tersebut.
Sondergaard menekankan bahwa, dari sisi integritas pasar, komunikasi yang jelas dan transparan mengenai likuiditas sangat penting. Mengapa? Karena trader tidak dapat menilai risiko secara akurat jika likuiditas bisa menghilang tanpa peringatan apapun.
Dia menyebut bahwa kejadian seperti ini bisa merusak kepercayaan di ekosistem secara luas. Analis ini menambahkan bahwa standar transparansi yang lebih baik, di tambah pengawasan berbasis data, akan membantu membedakan proyek-proyek yang sah dari pihak-pihak yang beritikad buruk. Sondergaard menyarankan,
“Akan lebih bijak kalau investor selalu berhati-hati ketika trading meme coin. Selalu nilai distribusi holder, apakah volume beli jauh lebih besar dari volume jual, apakah likuiditas yang masuk satu sisi saja (misal hanya token, atau usdc juga dimasukkan)?” terang analis tersebut.
Adams Bantah Tuduhan Rug Pull
Di tengah kritikan ini, juru bicara mantan wali kota, Todd Shapiro, membagikan pernyataan yang membantah tudingan tersebut. Ia menolak laporan yang menyebut Adams memindahkan dana investor atau mengambil keuntungan dari peluncuran token NYC, seraya menyatakan tudingan tersebut tidak benar dan tidak didukung oleh bukti.
Juru bicara itu menuturkan bahwa NYC Token mengalami volatilitas harga yang memang umum terjadi pada aset digital yang baru diluncurkan. Ia mengulangi komitmen Adams terhadap transparansi, akuntabilitas, dan inovasi yang bertanggung jawab.
Sebelumnya, tim NYC Token menyatakan bahwa pergerakan likuiditas tersebut terjadi karena proses rebalancing setelah adanya permintaan yang sangat tinggi saat peluncuran.
Bagaimana pendapat Anda tentang token kripto NYC di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Mengapa 86% dari Semua Kegagalan Token Kripto Terjadi di 2025
Pada tahun 2025, pasar aset kripto mengalami gelombang besar proyek yang kolaps, dengan lebih dari 11,6 juta token gagal hanya dalam satu tahun, menurut data terbaru dari CoinGecko.
Angka ini mewakili 86,3% dari semua kegagalan aset kripto yang tercatat sejak tahun 2021, sehingga tahun 2025 menjadi tahun paling merusak sepanjang sejarah industri untuk kelangsungan hidup sebuah token.
Pembuatan Token Meledak—Tingkat Bertahan Turun, Laporan CoinGecko Menunjukkan
Temuan CoinGecko menyoroti adanya kerusakan struktural di dalam ekonomi token, yang dipicu oleh ledakan penciptaan proyek baru, membludaknya meme coin, dan gejolak pasar yang makin tinggi.
Saat ini, 53,2% dari seluruh aset kripto yang dipantau di GeckoTerminal sudah tidak aktif. Sebagian besar kegagalan ini terjadi dalam dua tahun terakhir.
53,2% Aset Kripto Sudah Mati Sejak 2021 | Sumber: CoinGecko
Antara tahun 2021 hingga 2025, jumlah proyek aset kripto yang terdaftar melonjak dari 428.383 menjadi hampir 20,2 juta. Walaupun pertumbuhan cepat ini mencerminkan akses yang makin mudah terhadap alat penciptaan token, pasar pun mengalami kejenuhan parah.
Data kegagalan tahunan menunjukkan besarnya perubahan yang terjadi. Pada 2021, hanya 2.584 token yang gagal. Angka ini melonjak menjadi 213.075 pada 2022 dan 245.049 di 2023.
Kondisi makin memburuk di 2024, dengan 1.382.010 token yang kolaps. Tapi tahun 2025 jauh melampaui tahun-tahun sebelumnya, dengan 11.564.909 token yang gagal.
Secara total, tahun 2024 dan 2025 menyumbang lebih dari 96% seluruh kegagalan token kripto sejak 2021, yang menunjukkan kondisi pasar belakangan ini benar-benar mengubah ketahanan suatu token.
Metodologi CoinGecko hanya memfokuskan pada aset kripto yang setidaknya pernah mencatat satu kali perdagangan dan sudah terdaftar di GeckoTerminal sebelum akhirnya menjadi tidak aktif.
Token dengan nol aktivitas perdagangan tidak dihitung, sedangkan hanya token Pump.fun yang lulus yang dilibatkan, sehingga memperkuat kredibilitas data tersebut.
Q4 2025 Menjadi Titik Balik di Tengah Saturasi Meme Coin dan Masalah “Crime Szn”
Gelombang kolaps makin cepat di bulan-bulan terakhir tahun tersebut. Pada kuartal 4 tahun 2025 saja, ada 7,7 juta token gagal—ini mencakup 34,9% dari seluruh kegagalan yang tercatat selama lima tahun ini.
Peningkatan ini terjadi berbarengan dengan cascading likuidasi pada 10 Oktober, saat posisi leverage senilai US$19 miliar terhapus hanya dalam 24 jam, menandai peristiwa deleveraging terbesar yang pernah terjadi dalam industri kripto.
Kejadian ini membuka celah kelemahan pada token yang likuiditasnya tipis, di mana banyak di antaranya:
Tidak memiliki likuiditas yang memadai atau
Pihak pelaku pasar yang berkomitmen untuk bertahan menghadapi volatilitas ekstrem.
CoinGecko menuturkan bahwa penurunan tingkat kelangsungan hidup sangat terlihat di sektor meme coin, yang berkembang sangat pesat selama setahun terakhir.
Meningkatnya peluncuran launchpad yang mudah dipakai punya peran sentral dalam gelombang kegagalan ini. Platform seperti Pump.fun menurunkan hambatan teknis secara signifikan, sehingga hampir siapa pun bisa meluncurkan token dalam hitungan menit.
Meskipun langkah ini mendemokratisasi eksperimen token, pasar pun kebanjiran proyek asal-asalan yang tidak punya prospek jangka panjang.
Eksekutif DWF Labs, Andrei Grachev, menggambarkan situasi ini seperti musim kejahatan, sambil menunjukkan tekanan sistemik yang dihadapi baik founder maupun investor.
Pernyataannya mencerminkan tren konsolidasi yang semakin kuat di pasar kripto saat ini, di mana modal makin banyak mengalir ke Bitcoin, aset mapan, dan perdagangan spekulatif jangka pendek. Hal ini membuat proyek baru makin sulit untuk menarik likuiditas berkelanjutan.
Penumpukan kegagalan di 2025 pun semakin memperkuat kekhawatiran terhadap kesehatan praktik penciptaan token dalam jangka panjang.
Walau inovasi tetap jadi fondasi utama pasar aset kripto, data tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pasar untuk menyerap proyek baru benar-benar sudah terlalu terbebani.
Saat jutaan token menghilang, kepercayaan investor ritel pun terus menurun. Hal ini menyebabkan likuiditas berkurang dan persyaratan untuk peluncuran baru jadi makin tinggi.
Mengapa Siklus Kegagalan Token Mungkin Berlanjut hingga 2026
Di sisi lain, faktor-faktor yang mendorong kolapsnya pasar kripto di tahun 2025 hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan berbalik arah. Penciptaan token tetap mudah, likuiditas ritel terpecah-pecah, dan fokus pasar masih tertuju ke Bitcoin, aset blue-chip, serta perdagangan spekulatif jangka pendek.
Data CoinGecko memperlihatkan bahwa pertumbuhan pasokan token jauh lebih cepat ketimbang kemampuan pasar untuk menyerapnya. Dengan hampir 20,2 juta proyek terdaftar di akhir 2025, bahkan jika peluncuran lewat launchpad terus berjalan wajar saja, risiko kegagalan akan terus naik di 2026—terutama jika permintaan dan likuiditas tidak kembali menguat.
Peristiwa tekanan pasar juga tetap menjadi kelemahan utama. Pada 10 Oktober terjadi likuidasi besar-besaran, yang menghapuskan US$19 miliar posisi leverage hanya dalam 24 jam, dan itu menunjukkan betapa cepatnya guncangan sistemik bisa menyebar ke aset yang volume perdagangannya tipis.
Token yang tidak memiliki likuiditas dalam atau basis pengguna yang loyal terkena dampak paling besar, sehingga volatilitas serupa bisa memicu lebih banyak kegagalan massal.
Managing partner DWF Labs, Andrei Grachev, memperingatkan bahwa kondisi pasar saat ini secara struktural memang tidak ramah bagi proyek baru, sambil menggambarkan “perang likuiditas” yang terus berlangsung di seluruh pasar aset kripto.
ketika modal ritel makin menipis dan persaingan semakin ketat, token-token baru menghadapi hambatan yang semakin besar untuk bertahan. Tanpa perubahan pada insentif peluncuran, standar pengungkapan, atau edukasi investor, pasar berisiko mengulangi siklus yang sama: penerbitan yang cepat, spekulasi sesaat, lalu akhirnya kolaps.
Walaupun para pelaku industri berpendapat bahwa pembersihan ini pada akhirnya bisa memperkuat aset kripto dengan mengeliminasi proyek-proyek lemah, data menunjukkan penyesuaian ini masih jauh dari selesai.
Jika penciptaan token terus lebih cepat daripada pertumbuhan likuiditas, pada 2026 mungkin ada lebih sedikit peluncuran, tapi bukan berarti jumlah kegagalan juga akan berkurang.
Tahun 2026 menjadi titik balik bagi industri kripto global. Laporan terbaru mengungkapkan bahwa raksasa keuangan dunia tidak lagi melihat aset digital sebagai eksperimen spekulatif, melainkan sebagai komponen inti dalam portofolio mereka. Arus modal kini mengalir deras ke tiga aset utama.
Pergeseran ini menandai berakhirnya era spekulasi liar, berganti dengan strategi berbasis fundamental yang dipandu oleh para pemimpin pemikiran finansial dunia. Berikut adalah alasan mengapa ‘Smart Money’ kini berlabuh pada tiga pilar digital tersebut.
Standar Baru Aset Cadangan Korporasi
Bitcoin kini telah mengukuhkan posisinya sebagai “emas digital” yang wajib di miliki oleh institusi melalui instrumen ETF. Strategi ini di pertegas oleh Michael Saylor, Chairman MicroStrategy, yang melalui akun X miliknya Saylor menyatakan:
“Bitcoin bukan sekadar aset; ia adalah standar cadangan digital untuk peradaban modern. Di tahun 2026, setiap entitas yang tidak memiliki eksposur pada BTC berarti mereka sedang bertaruh melawan efisiensi matematika.”
Sejalan dengan Saylor, BlackRock kini memandang Bitcoin sebagai aset safe haven yang mampu bertahan di tengah fluktuasi ekonomi global.
Bagi institusi yang fokus pada infrastruktur keuangan, Ethereum tetap menjadi raja yang tak tergoyahkan. Raoul Pal, CEO Global Macro Investor Raoul GMI, menjelaskan bahwa Ethereum adalah pusat dari digitalisasi aset global.
Ethereum adalah ‘Global Settlement Layer’. Semua jalan menuju digitalisasi aset dunia nyata (RWA) bermuara di sini. Institusi memilih ETH karena mereka membutuhkan keamanan yang sudah teruji, bukan sekadar janji kecepatan.
Mesin Utama Adopsi Massal dan Efisiensi
Solana muncul sebagai “kuda hitam” yang paling disukai untuk skalabilitas tinggi. Cathie Wood, CEO ARK Invest CathieDWood, secara terbuka memuji kemampuan teknis jaringan ini dalam menangani transaksi skala besar.
Jika Ethereum adalah Apple-nya blockchain, maka Solana adalah infrastruktur yang memungkinkan adopsi massal terjadi sekarang. Kecepatannya yang setara dengan internet tradisional adalah alasan mengapa kami terus menambah posisi pada SOL.
Bagi banyak manajer aset, Solana dipandang sebagai solusi praktis untuk pembayaran global dan integrasi dengan teknologi Kecerdasan Buatan (AI).
Dukungan eksplisit dari tokoh-tokoh besar ini menunjukkan bahwa pasar kripto 2026 bukan lagi tentang “koin mana yang akan naik,” melainkan “infrastruktur mana yang akan di gunakan oleh dunia.” Bitcoin sebagai emas digital, Ethereum sebagai pusat data keuangan, dan Solana sebagai mesin transaksi cepat adalah tiga pilar yang kini memimpin revolusi ekonomi digital.
Bagaimana pendapat Anda tentang harga 3 mata uang kripto incaran institusi di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Staking Ethereum Catat Banyak Rekor — Apakah ETH Siap untuk Breakout?
Pada Januari 2026, ekosistem Ethereum mencatat lonjakan aktivitas staking, dengan beberapa metrik mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Pencapaian ini bisa mengurangi pasokan likuid dan mendorong potensi breakout harga.
Walaupun harga ETH tetap berada di bawah level US$3.500 selama dua bulan terakhir, analis merasa breakout semakin dekat berkat sinyal on-chain yang positif ini.
Hampir 36 Juta ETH Staking, Mewakili Hampir 30% dari Supply
Data ValidatorQueue menunjukkan bahwa ETH yang di staking telah mencapai 35,9 juta, atau sekitar 29,6% dari total pasokan yang beredar. Dengan harga saat ini, nilainya lebih dari US$119 miliar.
Baca Juga: 3 Mata Uang Kripto Incaran Institusi, Apa Saja?
Total ETH yang Di-Staking vs. Persentase Pasokan yang Di-Staking | Sumber: ValidatorQueue
Grafik tersebut menunjukkan lonjakan signifikan sejak awal Januari. ETH yang di staking naik dari 35,5 juta ke 35,9 juta, mengakhiri fase sideways panjang yang telah terjadi sejak Agustus tahun lalu.
Pertumbuhan ini terjadi walau harga ETH menurun lebih dari 30% sejak Agustus. Data ini memperlihatkan keyakinan jangka panjang yang kuat dari investor serta memperkuat keamanan dan stabilitas jaringan Ethereum.
Selain itu, per 15 Januari, antrean staking ETH menembus 2,5 juta ETH, mencetak level tertinggi baru sejak Agustus 2023. Sementara itu, antrean unstaking turun menjadi nol.
Capaian ini terutama di picu oleh aktivitas staking dari institusi besar serta Digital Asset Treasury (DAT) yang terdaftar di publik.
Arkham melaporkan bahwa Bitmine milik Tom Lee menambah staking sebanyak 186.500 ETH, senilai lebih dari US$600 juta. Langkah ini membuat total ETH yang di staking Bitmine menjadi 1,53 juta ETH, dengan nilai lebih dari US$5 miliar. Secara keseluruhan, Tom Lee kini melakukan staking lebih dari 1% dari total pasokan Ethereum.
“Tom Lee melakukan staking ETH senilai miliaran. Dia 100% tahu lebih banyak dibanding kita,” komentar CryptoGoos .
Sementara itu, SharpLink (SBET), perusahaan publik pertama yang memakai Ethereum sebagai aset treasury utama, menyampaikan bahwa aktivitas staking mereka telah menghasilkan lebih dari US$32 juta sejak Juni. Total reward yang terkumpul kini mencapai 11.157 ETH.
Ethereum juga mencatat pencapaian besar lainnya di Januari, karena aktivitas pengguna mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Tren ini mencerminkan besarnya partisipasi dalam transaksi stablecoin dan protokol DeFi di jaringan Ethereum.
Dengan sederet sinyal bullish tersebut, analis memperkirakan Ethereum bisa menembus resistance US$3.450 saat ini dan reli menuju US$4.000. Pandangan ini juga di dukung pola cup-and-handle yang sedang terbentuk dalam jangka pendek.
Bagaimana pendapat Anda tentang potensi breakout ETH di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Lighter Token Turun 15% saat Staking LIT Mulai Berjalan
Token LIT milik Lighter turun hampir 15% dalam 24 jam terakhir, setelah platform ini mengumumkan program staking terbarunya.
Walaupun peluncuran ini menambah utilitas baru dan menyelaraskan ekosistem, penurunan harga ini terutama disebabkan oleh aksi jual setelah peluncuran dan tekanan dari pasar secara umum.
Peluncuran Staking LIT: Semua Hal yang Perlu Diketahui Pengguna Lighter
Pada waktu publikasi, token LIT dari Lighter DEX diperdagangkan di harga US$1,85. Token ini turun hampir 14,79% dalam 24 jam terakhir. Dengan penurunan ini, Lighter secara efektif memvalidasi proyeksi penurunan 15% untuk token LIT.
Performa Harga Lighter (LIT) | Sumber: BeInCrypto
Ini terjadi hanya beberapa jam setelah Lighter mengumumkan rencana staking mereka. Jaringan ini menyoroti bagaimana para holder LIT sekarang bisa mendapat imbalan serta mengakses fitur tambahan di seluruh platform. Dengan melakukan staking LIT, pengguna dapat membuka akses ke LLP milik Lighter, salah satu produk keuangan on-chain andalan mereka.
Dalam program ini, untuk setiap 1 LIT yang di-stake, pengguna bisa langsung mendepositkan 10 USDC ke LLP. Para holder LLP saat ini mendapat masa tenggang dua minggu hingga 28 Januari. Setelah itu, LIT yang di-stake harus tetap berada di pool.
Menurut Lighter, mekanisme ini dirancang untuk membuat para holder LIT lebih selaras dengan partisipan LLP sekaligus meningkatkan imbal hasil yang sudah diperhitungkan risikonya.
Rencana serupa juga akan diterapkan pada pool publik lainnya sebagai bagian dari tujuan exchange untuk “mendemokratisasi hedge fund di on-chain.”
Staking juga memberikan insentif berupa potongan biaya. Market maker premium dan perusahaan trading berfrekuensi tinggi (HFT) akan mendapat potongan biaya pada level biaya baru, sedangkan trading untuk ritel tetap gratis.
“Staking LIT di Lighter akan mendapatkan yield, dan kami akan mulai mempublikasikan APR begitu program ini berjalan,” baca salah satu kutipan dalam pengumuman tersebut.
Lighter berencana untuk merilis rincian lengkap level biaya premiumnya dalam beberapa hari mendatang, supaya para trader profesional bisa menyesuaikan algoritma mereka.
Keuntungan tambahan meliputi penarikan dan transfer tanpa biaya bagi pengguna yang melakukan staking minimal 100 LIT, serta dukungan staking lewat mobile yang akan segera hadir. Yield awalnya akan diberikan dari hak staking yang sebelumnya hanya tersedia untuk pengguna premium.
Mengapa LIT Turun: Penjualan setelah Peluncuran, FUD, dan Volatilitas Staking
Meski ada potensi keuntungan dari staking, penurunan harga LIT mencerminkan gabungan berbagai faktor pasar. Aksi jual setelah peluncuran dan distribusi token setelah peluncuran mainnet publik pada Oktober menciptakan tekanan turun yang signifikan.
Demikian pula, jaringan Lighter masih menanggung beban FUD terkait dugaan penjualan token secara diam-diam. CEO-nya, Valdimir Novakovski, telah menanggapi isu ini secara terbuka melalui Discord.
Investor awal dan penerima airdrop menjual sebagian kepemilikan mereka, memicu rangkaian aksi keluar pasar. Volume trading juga menurun sejak hype peluncuran awal, dan level support teknikal telah ditembus, sehingga aksi jual pun semakin deras.
Pengumuman staking itu sendiri kemungkinan memperparah penurunan, akibat situasi “buy the rumor, sell the news,” sehingga periode volatilitas alami dan aksi ambil untung menjadi makin dalam.
Lighter sebelumnya juga sudah mencoba untuk menopang harga token lewat buyback yang telah dimulai pada 5 Januari sesuai model tokenomics mereka.
Namun, upaya tersebut sejauh ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan jual. Exchange ini tetap menjadi penantang teratas di pasar perpetual swap, dengan laporan volume perp hampir US$5 miliar dalam 24 jam terakhir, setelah pesaing seperti Aster (US$6,2 miliar) dan Hyperliquid (US$8,8 miliar).
Volume Perp Berdasarkan Protocol | Sumber: DefiLlama
Selain itu, Lighter baru-baru ini menggalang dana sebesar US$68 juta dengan valuasi US$1,5 miliar dalam ronde pendanaan bersama Founders Fund dan Ribbit Capital.
Seiring platform ini terus mengembangkan ekosistem LIT, peluncuran staking menjadi langkah penting dalam mengintegrasikan utilitas token dengan akses ke produk keuangan.
Dash Balap Monero, Coin Privacy Reli 100% Dalam Sepekan
Dash (DASH) melonjak menjadi performa mingguan terbaik di antara 300 aset kripto teratas, naik lebih dari 100% bahkan mengungguli Monero (XMR).
Peningkatan ini menandakan permintaan yang semakin besar pada aset kripto privasi dan menyoroti potensi DASH untuk menjadi pesaing Monero. Adopsi merchant yang semakin cepat dan akses yang makin mudah juga ikut mendorong tren ini.
DASH Jadi Privacy Coin Paling Banyak Di perdagangkan Saat Kenaikan Mingguan Melebihi 100%
Data BeInCrypto Markets menunjukkan nilai DASH telah naik 102,5% selama sepekan terakhir. Kemarin, altcoin ini menyentuh harga US$88,5 atau tertinggi dalam hampir dua bulan.
Dalam satu hari terakhir saja, DASH sudah meningkat 33,2%. Pada waktu publikasi, harganya di perdagangkan di angka US$82,27. Selain itu, volume perdagangan hariannya sudah melampaui US$1,3 miliar, sehingga menjadi aset paling banyak di perdagangkan di sektor aset kripto privasi, menurut CoinGecko.
Performa Harga DASH | Sumber: BeInCrypto Markets
Baca Juga: Harga XRP Melonjak Akibat Regulasi Ripple di Eropa
Kenaikan DASH merupakan bagian dari reli sektor aset kripto privasi secara luas. Berdasarkan CryptoRank, 14 dari 18 token privasi dengan kapitalisasi pasar di atas US$100 juta sudah mencatatkan imbal hasil positif sejak 1 Januari.
“80% token privasi naik di 2026. Seiring tema privasi makin bersinar, banyak token mencapai harga tertinggi terbaru,” tulis postingan tersebut.
Aturan know-your-customer dan anti-pencucian uang yang makin ketat membangkitkan kembali minat pada privasi keuangan sehingga mendorong aset kripto privasi kembali jadi sorotan. Zcash menjadi aset terbaik di sektor ini pada 2025, namun belakangan kekhawatiran terkait tim pengembangannya ikut membebani sentimen pasar.
Situasi ini mungkin saja memicu rotasi modal di dalam ruang privasi, menjauhkan minat dari ZEC. DASH juga turut di untungkan di tengah pergeseran ini, karena adopsi yang makin meningkat mengangkat sentimen pasar dan mendukung performa DASH terbaru dibandingkan Monero.
Pada 13 Januari, Alchemy Pay mengumumkan telah mulai mendukung fitur pembelian fiat on-ramp untuk DASH. Kerja sama ini memungkinkan pengguna di 173 negara untuk membeli DASH menggunakan pembayaran fiat lokal. Jangkauan geografis yang luas ini membuat akses makin mudah serta mengatasi salah satu hambatan terbesar bagi aset kripto privasi.
“Dengan integrasi DASH ke fiat on-ramp, Alchemy Pay memperluas akses ke ekosistem cash digital Dash dan mendukung penggunaannya untuk pembayaran, tabungan, serta aplikasi Web3,” tulis tim tersebut dalam pengumuman.
Sementara itu, data adopsi jangka panjang menempatkan DASH di depan pesaingnya sesama kripto privasi. Analitik Cryptwerk memperlihatkan saat ini terdapat 1.682 merchant yang menerima DASH. Altcoin ini berada di peringkat ketujuh untuk adopsi merchant secara keseluruhan, dengan popularitas sebesar 23,12%. Monero berada di peringkat sepuluh, diterima di 1.225 merchant dengan tingkat adopsi 16,84%.
Selisih dalam penerimaan merchant ini menyoroti keunggulan praktis DASH. Dengan 457 merchant lebih banyak yang menerima DASH daripada Monero, tingkat adopsinya sekitar 37% lebih tinggi.
Outlook Harga DASH
Seiring dorongan bullish yang terus menguat, para analis masih terbagi mengenai apakah reli masih berlanjut atau akan terjadi pergerakan koreksi. Ardi, salah satu analis, menerangkan bahwa aset kripto privasi tersebut telah menunjukkan “kekuatan gila”.
“Jika momentum ini bertahan, sekitar US$77 jadi support likuiditas untuk pantulan. Jika tidak, area retest kemungkinan di US$71–US$73. Selama level itu kuat, zona US$98–US$103 menjadi target selanjutnya. Privacy szn,” paparnya Ardi.
Analis Jens juga memandang tren secara keseluruhan masih positif dan menganggap penurunan harga sebagai peluang beli, dengan potensi kenaikan menuju US$100.
“Setelah membentuk base lama di kisaran US$36–US$40, pembeli masuk dan momentum pun bergeser bullish. Sekarang harga sedang menguji zona resistance US$85–US$90. Jika bertahan kuat di sini, harga bisa menuju di atas US$100. Bahkan koreksi ke US$60–US$65 masih tergolong sehat,” terang analis tersebut dalam laporannya.
Walau begitu, sebagian pelaku pasar tetap berhati-hati dan memprediksi bahwa mungkin terjadi koreksi setelah reli ini.
Meski begitu, indikator teknikal hanya memberikan kemungkinan, bukan kepastian. DASH harus menjaga fundamental, adopsi, dan pertumbuhan sektor privacy-coin secara keseluruhan agar reli-nya bisa berlanjut. Dengan momentum dari sisi teknikal, infrastruktur, dan utilitas, Dash tetap menjadi privacy coin utama yang patut dipantau untuk bersaing dengan rivalnya seperti Monero.
Bagaimana pendapat Anda tentang harga Dash di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Sinyal Bahaya Bitcoin: Bertahan di Atas US$95.000 atau Koreksi ?
Bitcoin sedang mencoba untuk memulihkan kerugian baru-baru ini setelah berhasil kembali ke level US$95.000, langkah yang membangkitkan optimisme jangka pendek. Reli ini mendorong BTC ke level tertinggi dua bulan, tapi pemulihan ini masih jauh dari selesai.
Pada kenyataannya, Bitcoin sekarang menghadapi ujian yang jauh lebih besar di depan. Zona antara US$98.000 dan US$110.000 merupakan resistance terkuat sejauh ini.
Holder Bitcoin Punya Peluang untuk Jual
Pergulatan Bitcoin menjadi semakin jelas jika melihat Long-Term Holder Cost Basis Distribution Heatmap. Sejak November 2025, setiap rebound selalu terhenti di dalam klaster suplai padat, berkisar dari sekitar US$93.000 hingga US$110.000. Area ini berisi koin yang dibeli saat puncak harga sebelumnya, sehingga menciptakan tekanan jual yang terus-menerus saat harga kembali ke zona tersebut.
Setiap upaya naik ke rentang ini selalu memicu distribusi baru dari para long-term holder. Akibatnya, Bitcoin gagal mempertahankan pemulihan struktural walaupun sudah beberapa kali terjadi breakout. Dengan harga kembali menekan suplai di atasnya, pasar menghadapi ujian ketahanan yang sudah tidak asing lagi. Menyerap distribusi ini masih menjadi kunci utama untuk pembalikan tren yang berkelanjutan.
Baca Juga: 3 Mata Uang Kripto Incaran Institusi, Apa Saja?
Heatmap Bitcoin LTH CBD | Sumber: Glassnode
Dalam skala yang lebih luas, Net Realized Profit and Loss untuk long-term holder menampilkan gambaran yang lebih moderat. Data saat ini menunjukkan long-term holder merealisasikan sekitar 12.800 BTC per minggu dalam bentuk arus keuntungan bersih. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan puncak siklus sebelumnya yang melebihi 100.000 BTC per minggu.
Perlambatan ini menandakan aksi profit taking masih berlangsung tapi jauh lebih moderat. Kondisi ini membuat risiko penurunan jangka pendek menjadi berkurang, namun tidak sepenuhnya menghilangkan tekanan jual. Arah pasar sekarang sangat bergantung pada kekuatan permintaan, khususnya dari pembeli yang mengakumulasi Bitcoin selama kuartal kedua 2025. Bila permintaan tidak mampu menyerap pasokan, momentum naik akan melemah.
Profit/Loss Bitcoin LTH | Sumber: Glassnode
Patokan utama jangka panjang tetap pada True Market Mean di sekitar US$81.000. Perdagangan yang bertahan di atas level ini mendukung prospek makro yang konstruktif. Jika gagal bertahan dalam jangka waktu yang lama, risiko kapitulasi akan naik secara signifikan, layaknya penurunan panjang yang terjadi antara April 2022 hingga April 2023.
Harga BTC Perlu Kekuatan untuk Tembus US$98.000
Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$96.302 pada waktu publikasi, menandai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Pergerakan di atas US$95.000 mengangkat sentimen dan mendorong BTC mendekati resistance US$98.000. Momentum jangka pendek masih positif selama harga bertahan di atas support yang baru saja direbut kembali.
Namun, menembus US$98.000 dan bertahan di atas US$95.000 akan sangat sulit. Pasokan di atasnya masih berat, sehingga setiap kenaikan tekanan jual bisa dengan cepat membalikkan keuntungan. Jika investor memilih untuk mengamankan keuntungan, Bitcoin bisa kembali turun di bawah US$95.000. Kemudian koreksi lebih dalam ke arah US$91.471 menjadi lebih memungkinkan.
Analisis Harga Bitcoin | Sumber: TradingView
Skenario bullish masih mungkin terjadi jika long-term holder semakin mengurangi aksi jual. Jika distribusi mulai berkurang, Bitcoin berpotensi breakout di atas US$98.000 dan menantang US$100.000. Jika level psikologis tersebut berubah menjadi support, sentimen pasar akan membaik secara signifikan. Dari situ, BTC bisa memiliki peluang realistis menargetkan US$110.000, meskipun resistance baru akan muncul di atas angka enam digit tersebut.
Bagaimana pendapat Anda tentang prediksi harga Bitcoin di atas? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Tertarik Berkunjung ke Negara Ini? Anda Bisa Dapat “Paspor Bitcoin”
El Salvador kembali mengejutkan dunia. Kali ini, lewat peluncuran Bitcoin passport, sebuah langkah lanjutan dalam strategi unik negara tersebut. Program ini menggabungkan pariwisata, transaksi sehari-hari, dan konsep aset kripto dalam satu solusi. Yang terpenting, paspor Bitcoin ini dirancang untuk mendorong penggunaan Bitcoin di dunia nyata, bukan sekadar spekulasi.
El Salvador ingin membuktikan bahwa adopsi kripto dapat melampaui investasi semata dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Program Bitcoin Country dan dari Mana Asalnya?
Pekan ini, El Salvador resmi memperkenalkan program “Bitcoin Country” passport, yang memperluas strategi Bitcoin nasional ke sektor pariwisata dan perdagangan. Program ini merupakan kelanjutan dari pengakuan Bitcoin sebagai legal tender pada 2021. Pemerintah ingin Bitcoin hadir dalam transaksi harian, bukan hanya menjadi tajuk berita. Karena itu, fokus utama program ini adalah manfaat praktis bagi para penggunanya.
Melalui inisiatif ini, pemegang paspor berhak mendapatkan diskon hingga 10% di sejumlah merchant tertentu. Diskon tersebut hanya berlaku jika pembayaran dilakukan menggunakan Bitcoin, sehingga secara langsung mendorong adopsi kripto. Selain itu, program ini juga dirancang untuk menarik wisatawan yang tertarik dengan dunia kripto, sekaligus memperkuat citra El Salvador sebagai Bitcoin hub global.
Otoritas setempat menegaskan bahwa paspor ini bukan dokumen perjalanan resmi. Paspor Bitcoin lebih berfungsi sebagai identitas bermerek atau kartu keanggotaan. Ia melambangkan keanggotaan dalam komunitas “Bitcoin Country” sekaligus memberikan penghematan nyata untuk transaksi sehari-hari.
Baca Juga: El Salvador Tetap Beli Bitcoin Meski IMF Berkata Sebaliknya
Bagaimana Cara Kerja Bitcoin Passport dalam Praktik?
Bitcoin passport tidak bisa digunakan untuk melintasi perbatasan atau menggantikan dokumen resmi negara. Fungsinya murni sebagai alat untuk mengakses manfaat lokal.
Pemegang paspor akan memperoleh diskon di merchant yang berpartisipasi, dengan syarat pembayaran dilakukan menggunakan Bitcoin dan merchant tersebut menerima aset kripto. Diskon bisa mencapai 10%, sehingga memberikan insentif finansial yang jelas bagi konsumen.
Di sisi lain, pelaku usaha juga diuntungkan karena terdorong untuk menerima Bitcoin. Dengan demikian, adopsi kripto langsung terhubung dengan kebiasaan belanja sehari-hari.
Hingga kini, daftar lengkap merchant yang berpartisipasi belum dipublikasikan. Namun, informasi awal menunjukkan bahwa program ini akan banyak melibatkan hotel, restoran, dan layanan pariwisata, sektor yang secara alami berkaitan dengan arus wisatawan asing dan sebelumnya sudah diuntungkan oleh kedatangan “turis Bitcoin”.
Dalam praktiknya, paspor ini bekerja layaknya kartu keanggotaan. Pemegang cukup menunjukkannya kepada penjual untuk mendapatkan diskon. Seluruh proses dirancang agar sederhana dan mudah dipahami, bahkan bagi pengguna Bitcoin pemula sekalipun.
Bitcoin Passport sebagai Identitas dan Gaya Hidup
Sejak 2021, El Salvador terus bereksperimen dalam mengintegrasikan Bitcoin ke kehidupan sehari-hari. Awalnya, fokus berada pada dompet digital dan remitansi. Namun, program terbaru ini menandai perubahan pendekatan.
Kini, pemerintah menekankan aspek gaya hidup dan identitas nasional. Bitcoin passport menggabungkan branding negara dengan manfaat ekonomi yang nyata. Menurut otoritas, ini adalah solusi yang bersifat simbolis sekaligus sangat praktis.
Baik warga lokal maupun wisatawan mendapat pesan yang jelas: Bitcoin adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Aset kripto tidak lagi dipandang sebagai teknologi abstrak.
Program ini juga memperkuat strategi pemasaran El Salvador sebagai destinasi ramah kripto. Selama beberapa tahun terakhir, negara ini kerap menarik perhatian global lewat konferensi dan acara Bitcoin. Kehadiran paspor Bitcoin memperluas narasi tersebut dengan menawarkan insentif finansial konkret.
Bagi banyak orang, rasa memiliki itu penting. Bitcoin passport memberikan cara untuk menunjukkan dukungan terhadap keuangan digital tanpa membutuhkan pengetahuan teknis yang rumit. Ini menjadi langkah sederhana menuju adopsi massal.
Apa Arti Program Ini bagi Turis dan Warga Lokal?
Bagi wisatawan asing, program ini menawarkan sistem diskon yang terstruktur. Aturannya jelas dan manfaatnya konkret. Pada saat yang sama, turis bisa merasakan langsung eksperimen kebijakan kripto El Salvador.
Kombinasi antara pariwisata dan keuangan digital inilah yang membedakan El Salvador dari negara lain.
Bagi penduduk lokal, paspor ini memperkuat peran Bitcoin di luar sekadar instrumen investasi. Aset kripto menjadi alat pembayaran sehari-hari. Program ini menunjukkan bahwa Bitcoin dapat berfungsi di ekonomi nyata, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan terhadap sistem secara keseluruhan.
Pertanyaan besarnya adalah apakah solusi ini benar-benar akan meningkatkan adopsi. Jawabannya bergantung pada skala partisipasi merchant dan pengguna. Jika daftar vendor terus bertambah, program ini akan semakin relevan dan paspor Bitcoin bisa benar-benar menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Pertanyaan lain adalah apakah negara lain akan mengikuti langkah El Salvador. Untuk saat ini, ini masih menjadi eksperimen unik yang diawasi secara global. Jika berhasil, bukan tidak mungkin program serupa akan ditiru di negara lain.
Baca Juga: El Salvador Kembali Borong Bitcoin Untuk Strategic Bitcoin Reserve
Manfaat Utama Program Bitcoin Country Passport
Diskon hingga 10% untuk pembayaran menggunakan Bitcoin
Promosi pariwisata berbasis kripto
Penguatan adopsi Bitcoin dalam perdagangan
Pembangunan identitas nasional berbasis inovasi
Bitcoin passport menyatukan pariwisata, perdagangan, dan keuangan digital dalam satu sistem yang kohesif. El Salvador menunjukkan bahwa aset kripto dapat terintegrasi ke dalam pengalaman sehari-hari. Program ini memang tidak menyelesaikan seluruh tantangan adopsi, namun jelas menandai arah baru.
Ini adalah satu langkah berani lagi dalam eksperimen Bitcoin global.
Bagaimana pendapat Anda tentang inovasi El Salvador soal paspor Bitcoin ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Base App Jadi Trading-First, Tapi Bagaimana dengan Mini Apps dan Creator Coin?
Base, wallet self-custodial dan ekosistem aplikasi on-chain yang dikembangkan oleh Coinbase, sedang melakukan perubahan strategi ke pendekatan trading-first.
Sejak diluncurkan pada Juli 2025, aplikasi Base telah menarik ratusan ribu pengguna yang terlibat dalam berbagai aktivitas, mulai dari trading, menabung, membangun, hingga membelanjakan aset secara on-chain.
Base App Beralih ke Visi Trading-First sambil Menjaga Mini Apps dan Creator Coin
Jesse Pollak, pencipta Base, mengumumkan perubahan ini, serta menjelaskan bahwa aplikasi kini akan memprioritaskan peningkatan permintaan dan distribusi untuk semua jenis aset yang bisa diperdagangkan.
Langkah ini mencerminkan masukan dari pengguna yang mengatakan bahwa versi awal aplikasi terlalu menitikberatkan pada fitur sosial, sehingga berbagai aset on-chain kurang mendapat perhatian.
Pollak menuturkan bahwa ada tiga tema utama yang muncul dari umpan balik pengguna:
Fokus sosial di aplikasi terlalu mengingatkan pada platform Web2
Ada permintaan kuat untuk lebih banyak aset berkualitas tinggi yang bisa diperdagangkan, dan
Feed di aplikasi seharusnya menampilkan gambaran lengkap aktivitas on-chain, termasuk aplikasi, saham, prediksi, serta social token.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Base kini akan membangun fitur trading sebagai fitur utama. Perubahan ini bertujuan untuk mendorong aliran modal ke berbagai kelas aset yang sedang berkembang, termasuk protokol, aplikasi, saham, prediksi, meme, dan creator coin.
Pollak menegaskan bahwa pengalaman pengguna (UX) yang finance-first sekarang akan menjadi fondasi aplikasi. Nantinya, beberapa lapisan sosial seperti copy-trading, feed-trading, dan leaderboard akan ditambahkan di atasnya.
Targetnya yaitu meningkatkan keterlibatan pengguna, retensi, dan distribusi di seluruh ekosistem Base.
Mini Apps dan Creator Coin Tetap Jadi Inti saat Base Perluas Trading Global dan Feed Multi-Aset
Meski beralih strategi, Mini Apps tetap menjadi bagian inti dari platform ini. Pollak meyakinkan para pengembang dan pengguna bahwa alat-alat untuk membantu kreator dan memperlancar pengalaman pengguna tetap akan didukung.
“…Mini Apps tetap menjadi bagian inti dari visi ini – kami sedang mengembangkan fitur yang memudahkan penemuan aplikasi, serta alat yang jauh lebih baik untuk memantau performa + leaderboard + dampak (misalnya, berapa banyak orang yang sudah berhasil Anda onboarding). Tujuan utama perubahan ini ialah mendorong lebih banyak distribusi, bukan sebaliknya,” papar dia .
Peningkatan dalam hal kemudahan penemuan aplikasi, pelacakan performa, dan pengukuran dampak – termasuk leaderboard yang memperlihatkan data onboarding pengguna dan keterlibatan aset – sedang dalam proses pengembangan.
Hal ini memastikan bahwa Mini Apps tetap mendorong visibilitas serta distribusi untuk aplikasi dan kreator.
Creator coin, sebagai ciri khas ekonomi Base lain, juga masih akan jadi bagian utama. Pollak secara khusus menegaskan bahwa token $ Jesse miliknya dan aset kreator lainnya tetap didukung. Ini memperkuat komitmen Base pada ekonomi on-chain yang beragam dan inklusif.
Builder, pengembang, dan trader bisa mengharapkan semua fitur tetap dapat diakses luas secara global, sambil mengikuti aturan regulasi di wilayah masing-masing. Hal ini termasuk yurisdiksi seperti Inggris yang memberlakukan pembatasan lebih ketat.
CEO Coinbase Brian Armstrong pun menambahkan bahwa Base App akan memperluas feed agar mencakup lebih banyak aset dan aplikasi, memberikan pengalaman lintas chain namun tetap menghadirkan Base sebagai pusat utamanya.
Pendekatan menyeluruh ini dirancang untuk memudahkan penemuan, menciptakan permintaan, dan mengalirkan modal ke seluruh ekosistem on-chain.
Dengan menambahkan fungsi sosial di atas platform finance-first, Base bertujuan menawarkan lingkungan lengkap bagi aktivitas trading, membangun, dan keterlibatan dengan aset on-chain.
Namun, meskipun terjadi perubahan paradigma ini, Coinbase dan juga Base tetap harus menempuh jalan panjang untuk bisa menarik pengguna, apalagi karena keterlambatan eksekusi dan keamanan yang jadi sorotan.
Para pengembang mengkritik Base karena lebih mengutamakan pihak dalam, meme coin, serta eksperimen sosial daripada kegunaan nyata.
Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa beralih ke visi trading-first merupakan langkah ke arah yang benar, mengikuti tuntutan retail yang menginginkan alat keuangan terintegrasi, bukan aplikasi terpisah atau gangguan sosial on-chain semata.
CEO CoinGecko Tegaskan Kekuatan dan Visi Jangka Panjang di Tengah Rumor Penjualan US$500 Juta
CEO dan co-founder CoinGecko, Bobby Ong, merilis pernyataan terkait pandangan platform tersebut. Ia menekankan kekuatan operasional dan terus berfokus pada transparansi serta pertumbuhan jangka panjang.
Pernyataan ini muncul di tengah rumor yang mengatakan bahwa CoinGecko mungkin sedang mempertimbangkan kemungkinan penjualan.
Coingecko Tegaskan Visi Jangka Panjang di Tengah Laporan Potensi Penjualan
Laporan terbaru yang mengutip sumber yang mengetahui persoalan ini, menyebut CoinGecko, agregator data aset kripto independen, tengah mempertimbangkan kemungkinan penjualan dengan valuasi sekitar US$500.000.000.
Menurut sumber tersebut, perusahaan telah menunjuk bank investasi Moelis untuk memberikan saran dalam proses ini. Salah satu sumber menyampaikan bahwa masih terlalu dini untuk menentukan valuasi pasti. Mereka juga menambahkan bahwa prosesnya sendiri baru dimulai pada akhir tahun lalu.
Di tengah laporan tersebut, Ong menggunakan LinkedIn untuk menegaskan kembali kekuatan operasional dan prinsip inti CoinGecko.
“Setelah hampir 12 tahun membangun CoinGecko sebagai perusahaan bootstrap, pertanyaan yang sering diajukan kepada saya adalah apa rencana ke depannya. Yang bisa saya bagikan hari ini adalah: CoinGecko beroperasi dari posisi yang kuat. Kami terus berkembang, menguntungkan, dan melihat permintaan yang meningkat dari institusi, seiring dengan semakin besarnya adopsi aset kripto oleh keuangan tradisional,” ujar Ong .
Ong juga menambahkan bahwa perusahaan secara rutin meninjau berbagai jalur strategis potensial, sambil menegaskan bahwa setiap pertimbangan tersebut ditujukan untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan dan meningkatkan layanan yang diberikan kepada pengguna maupun klien institusional.
“Seperti perusahaan yang dikelola dengan baik pada tahap ini, kami secara rutin mengevaluasi peluang strategis yang dapat membantu mempercepat pertumbuhan kami dan memperkuat nilai yang kami berikan – baik kepada jutaan pengguna yang mengandalkan platform kami, maupun kepada basis klien korporat yang terus bertambah,” terang Ong.
Ia menegaskan bahwa komitmen perusahaan terhadap transparansi serta fokus pada penyediaan data aset kripto yang berkualitas tinggi dan tanpa bias tetap tidak berubah.
Eksekutif tersebut juga menyinggung perkembangan yang lebih luas di sektor kripto. Ia menyoroti kerangka regulasi yang semakin jelas dan meningkatnya partisipasi institusi, sekaligus menekankan bahwa CoinGecko tetap fokus pada para penggunanya dan pertumbuhan jangka panjang.
“Kami sangat antusias akan peluang ke depan dan tetap fokus melayani pengguna sekaligus terus membangun CoinGecko untuk jangka panjang,” tutur Ong.
Dengan demikian, jelas bahwa pernyataan sang pendiri tidak mengonfirmasi atau menyangkal penjualan CoinGecko. Pernyataan ini menekankan kekuatan keuangan, pertumbuhan, serta keterbukaan untuk mengevaluasi peluang strategis, tanpa memberikan sinyal bahwa ada transaksi yang direncanakan atau akan segera terjadi.
Sementara itu, industri aset kripto secara umum mengalami peningkatan signifikan dalam aktivitas merger dan akuisisi. Laporan terbaru dari Architect Partners menunjukkan bahwa aktivitas M&A kripto mencapai rekor baru pada 2025, dengan kesepakatan investasi aset kripto menyumbang 27,8% dari total aktivitas.
Aktivitas M&A Kripto | Sumber: Architect Partners
Transaksi besar yang tercatat, antara lain akuisisi Deribit oleh Coinbase senilai US$2,9 miliar, pembelian NinjaTrader oleh Kraken senilai US$1,5 miliar, serta pengakuisisian Hidden Road oleh Ripple senilai US$1,25 miliar.
Tren ini juga berlanjut hingga 2026, ditandai dengan Strive yang minggu ini telah mengantongi persetujuan pemegang saham untuk melanjutkan akuisisi Semler Scientific.
Hanya Butuh 1 Bulan, Trader Crypto Ini “Sulap” Rp6 Juta Jadi Rp20 Miliar
Bayangkan “menyulap” US$370 (Rp6,25 juta) menjadi US$1,2 juta (Rp20,26 miliar) hanya dalam satu bulan. Inilah kisah gila seorang trader crypto yang berhasil memanfaatkan hype meme coin lebih awal dan, dengan demikian, menantang gravitasi pasar.
Seorang Trader Membidik dengan Begitu Presisi
Seorang trader crypto yang dikenal dengan nama Remusofmars berhasil mengubah investasi kecil senilai US$370 pada koin White Whale (WHITEWHALE), yang berbasis di blockchain Solana, menjadi lebih dari US$1,2 juta. Pembelian awal ini ia lakukan pada awal Desember 2025 dan saat itu mewakili sekitar 1,5% dari total pasokan token.
Dalam waktu 24 jam saja, nilai portofolionya sudah melonjak ke US$6.200, atau naik sekitar 16 kali lipat. Lonjakan ini membuktikan betapa cepat sekaligus ekstremnya pergerakan harga di pasar spekulatif seperti meme coin.
Perjalanan Remusofmars berlanjut dengan pengelolaan posisi yang strategis. Ketika kapitalisasi pasar crypto tersebut mencapai US$150 juta, ia memilih untuk merealisasikan cuan sebesar US$220.000. Namun, ia tetap mempertahankan eksposur besar, yakni sekitar US$930.000 dalam bentuk WHITEWHALE dan US$237.500 dalam USDC. Dengan begitu, total asetnya menembus US$1,2 juta.
Baca Juga: Rugi Rp13,4 Miliar, Andrew Tate Dicap sebagai “Salah Satu Trader Kripto Terburuk”
Setelah mendulang profit tersebut, Remusofmars menyatakan bahwa ia mempertahankan token tersebut bukan semata demi uang, melainkan karena keyakinan. Sebelum menjadi sangat menguntungkan, proyek ini sebenarnya sempat diliputi kontroversi.
Kisahnya bermula dari sebuah skandal yang melibatkan trader lain dengan julukan “The White Whale”, yang akunnya di platform MEXC dibekukan karena dicurigai melakukan perdagangan otomatis (automated trading), sementara dana sekitar US$3 juta tertahan di dalamnya. Setelah gelombang protes publik, MEXC akhirnya mengakui kesalahan dan mengembalikan dana tersebut.
Memanfaatkan popularitas yang meledak, The White Whale kemudian mengambil alih kendali proyek WHITEWHALE yang diluncurkan oleh komunitas di Solana. Ia dengan cepat mengamankan likuiditas token dan memperkenalkan insentif menarik bagi holder jangka panjang, mengubah meme coin sederhana menjadi salah satu performer paling mengesankan di ekosistem tersebut.
Remusofmars pun melihat peluang besar dari situ. Kini, ia kembali mencuri perhatian dengan bertaruh penuh pada meme coin Gachapin. Apakah langkah ini akan kembali membuahkan hasil, hanya waktu yang bisa menjawab.
Tempat yang Sama, Eldorado Baru?
Kisah ini dengan sempurna menggambarkan demam meme coin yang tengah melanda pasar crypto, ibarat ladang emas baru. Pekan ini, pasar crypto secara keseluruhan mengalami kenaikan, tetapi koin-koin bernuansa humor justru menjadi yang paling unggul.
Rata-rata, meme coin mencatat apresiasi sekitar 8,1%. PEPE memimpin dengan lonjakan 14,1%, Fartcoin naik 15,4%, serta Dogecoin yang tengah bersiap untuk reli lanjutan. Di jaringan Solana, kapitalisasi pasar sektor ini kini mencapai US$6,7 miliar, naik dari US$5,1 miliar pada awal 2025. Volume harian bahkan melampaui US$2,5 miliar, sementara platform seperti pump.fun terus mencetak rekor transaksi.
Baca Juga: Grayscale Tambah 36 Altcoin ke Daftar Aset Pantauan untuk Q1 2026
Namun, ledakan ini datang bersama volatilitas yang sangat tinggi. Setelah tahun 2025 yang tergolong buruk, koreksi tajam tetap menjadi ancaman konstan. Changpeng Zhao, mantan CEO Binance, telah memperingatkan bahaya spekulasi yang berlebihan. Ia menekankan bahwa mengikuti tren token secara membabi buta sering kali berujung pada kerugian.
Pasalnya, pasar sudah sangat jenuh. Sepanjang 2025, lebih dari 13 juta token menetas di Solana dan BNB Chain. Sekitar 99% di antaranya berakhir menjadi zombie coin atau rug pull, memicu kerugian hingga ratusan juta dolar. Karena itu, sebelum berinvestasi, investor perlu benar-benar memahami ke mana arah dan risiko yang diambil.
Pesan moral: keberuntungan berpihak pada mereka yang berani (fortune favours the bold), tetapi khususnya kepada mereka yang melakukan riset dengan matang.
Bagaimana pendapat Anda tentang rahasia di balik nasib mujur trader crypto ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Crypto Whale Tingkatkan Akumulasi Chainlink setelah Exchange-Traded Fund (ETF) LINK Kedua Resmi M...
Para crypto whale sedang menambah eksposur mereka ke Chainlink (LINK) seiring masuknya exchange-traded fund (ETF) spot kedua yang berhubungan dengan altcoin ini ke pasar minggu ini.
Peningkatan aktivitas institusi dan holder besar menunjukkan semakin tumbuhnya kepercayaan terhadap prospek Chainlink. Meski begitu, LINK mengalami penurunan lebih dari 1% dalam 24 jam terakhir, sejalan dengan tren penurunan pasar secara umum.
Bitwise Chainlink ETF Debut Dengan Arus Masuk US$2,59 Juta
Bitwise Chainlink ETF (kode: CLNK) mulai diperdagangkan di NYSE Arca pada 14 Januari. CLNK memiliki biaya manajemen sebesar 0,34%. tapi, Bitwise menggratiskan biaya ini selama tiga bulan pertama untuk aset hingga US$500 juta.
“Chainlink menyediakan infrastruktur oracle penting yang menjembatani kesenjangan itu, mendukung manajemen risiko dan pengambilan keputusan finansial yang diperlukan untuk adopsi mainstream. Dengan CLNK, investor kini memiliki cara baru untuk berinvestasi di lapisan fundamental ekonomi blockchain ini,” terang Matt Hougan, Chief Investment Officer di Bitwise .
Berdasarkan data dari SoSoValue, pada hari pembukaan terjadi arus bersih masuk senilai US$2,59 juta. Nilai aset bersih dana naik menjadi US$5,18 juta, dengan volume transaksi sebesar US$3,24 juta.
Peluncuran ini menjadi ETF spot LINK kedua di AS yang langsung terhubung ke LINK. Grayscale Chainlink Trust ETF (GLNK), yang debut awal Desember, berhasil menarik arus masuk US$37,05 juta pada hari pertamanya.
Dibandingkan, arus masuk awal Bitwise terlihat lebih kecil. Walaupun demikian, peluncuran ETF ini berhasil mendorong total aset bersih LINK ETF menjadi US$95,87 juta, semakin mendekati angka US$100 juta.
Performa ETF Chainlink | Sumber: SoSoValue Whale LINK Tingkatkan Akumulasi
Di luar minat institusi, Chainlink juga menarik atensi para crypto whale. Data on-chain memperlihatkan bahwa satu wallet whale (0x10D9) menarik 139.950 LINK dari Binance, senilai sekitar US$1,96 juta.
Langkah ini mengikuti fase akumulasi sebelumnya, di mana wallet yang sama menarik 202.607 LINK senilai sekitar US$2,7 juta dari exchange tersebut.
“Kini whale tersebut memegang 342.557 $LINK bernilai US$4,81 juta yang diakumulasi dalam 2 hari terakhir,” cuit Onchain Lens .
Selain itu, Onchain Lens juga menyoroti wallet whale lain, 0xb59, yang menarik 207.328 LINK senilai sekitar US$2,78 juta pada 12 Januari.
Peningkatan minat whale bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. BeInCrypto melaporkan pekan lalu bahwa holder besar sedang mengakumulasi LINK dalam jumlah besar. Merujuk pada data Nansen , saldo wallet whale meningkat 1,37% selama seminggu terakhir, sementara saldo LINK di exchange turun 1% pada periode yang sama.
Perbedaan tren ini menunjukkan investor besar sedang memindahkan token dari exchange ke wallet sendiri, pola umum yang sering dikaitkan dengan akumulasi jangka panjang dibandingkan aktivitas trading jangka pendek.
Performa Harga Chainlink (LINK) | Sumber: BeInCrypto Markets
Meski begitu, tekanan pasar secara umum masih membebani LINK. Data dari BeInCrypto Markets memperlihatkan bahwa altcoin ini turun 1,2% dalam sehari terakhir. Pada waktu publikasi, LINK diperdagangkan di US$13,8.
Apa yang Mendorong Reli Internet Computer (ICP) Hampir 40%?
Internet Computer (ICP) melonjak lebih dari 39% dalam sepekan terakhir, melampaui aset kripto utama lainnya karena investor merespons perilisan whitepaper MISSION70 terbaru.
Dokumen ini mengusulkan pembaruan menyeluruh untuk menurunkan inflasi sedikitnya 70% hingga akhir 2026. Target ini akan dicapai melalui kombinasi percepatan permintaan dan pengurangan suplai.
Internet Computer Menjadi Top Gainer Harian di Tengah Pemulihan Pasar Aset Kripto yang Lebih Luas
ICP kini menjadi salah satu performa terbaik di pasar aset kripto. Data dari CoinGecko memperlihatkan ICP membukukan kenaikan hampir 26% dalam 24 jam terakhir, menempatkan token ini di posisi teratas dalam leaderboard harian di antara 100 aset kripto terbesar.
Reli ini merupakan bagian dari tren kenaikan yang lebih luas sejak awal pekan. Altcoin ini memasuki tahun 2026 sejalan dengan pasar aset kripto secara keseluruhan, dan sempat mengalami kenaikan sebelum koreksi singkat.
Tapi, momentum berubah lagi pekan ini. Aset utama seperti Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) kembali bergerak naik, sehingga optimisme pasar secara luas pun pulih.
Sentimen positif ini turut menopang pergerakan harga ICP, sementara perkembangan di ekosistem Internet Computer juga ikut mendorong reli, menambah kepercayaan investor pada fundamental jaringan tersebut.
“Internet Computer memimpin aset large cap selama sepekan terakhir dengan kenaikan market cap +39%,” tulis Santiment .
Performa Harga Internet Computer (ICP) | Sumber: TradingView Whitepaper Mission 70 Jelaskan Strategi Ganda untuk Kurangi Inflasi Token ICP
Tim DFINITY merilis whitepaper MISSION70 pada 13 Januari 2026. Dokumen ini menjelaskan pendekatan ganda untuk menurunkan tingkat inflasi ICP. Strateginya menggabungkan aksi dari sisi suplai dan permintaan, dengan tujuan penurunan inflasi token sebesar 70% hingga akhir tahun.
Reformasi di sisi suplai akan berkontribusi pada 44% dari total penurunan. Perubahan ini meliputi penurunan reward voting, reward node provider, pembatasan reward pool, serta memperkenalkan mekanisme modulasai maturity yang lebih sederhana.
Whitepaper ini menyoroti bahwa reward node provider saat ini jauh melampaui biaya infrastruktur dasar, sehingga masih ada ruang untuk pemangkasan tanpa mengorbankan keamanan jaringan.
“Kami memperkirakan langkah sisi suplai akan menurunkan proses pencetakan ICP dari 9,72% (Januari 2026) menjadi 5,42% (Januari 2027), atau turun 44%. DFINITY yakin target Mission 70 berupa penurunan inflasi 70% bisa terlampaui dengan gabungan upaya sisi suplai dan percepatan permintaan,” bunyi dokumen tersebut.
Sisa penurunan 26% membutuhkan peningkatan aktivitas jaringan. DFINITY berencana mendorong permintaan lewat aplikasi on-chain berbasis AI serta produk cloud engine baru.
Whitepaper tersebut memperkirakan bahwa semakin banyaknya penggunaan akan membakar lebih banyak ICP lewat biaya komputasi, sehingga bisa menciptakan tekanan deflasi pada token.
“Untuk mencapai target keseluruhan Mission 70 berupa penurunan inflasi 70% (dari 9,72% ke 2,92%), dibutuhkan tambahan dampak permintaan sebesar 26% di luar penurunan 44% dari sisi suplai. Pada level harga saat ini, diperlukan peningkatan cycle burn rate dari 0,05 XDR per detik menjadi 0,77 XDR per detik,” tambah tim tersebut.
Respons Pasar dan Data On-Chain Tunjukkan Kepercayaan Kuat
Di sisi lain, kenaikan harga ICP juga diiringi aktivitas on-chain yang menonjol. Data Nansen memperlihatkan saldo ICP di exchange turun lebih dari 58% dalam 24 jam terakhir.
Arus keluar tajam semacam ini biasanya menandakan para holder memindahkan token dari exchange, yang biasanya berkorelasi dengan penurunan tekanan jual jangka pendek.
Saldo ICP di Exchange | Sumber: Nansen
Pemanfaatan jaringan juga terus naik. Menurut Chainspect, Internet Computer memproses sekitar 90 juta transaksi dalam satu hari, menandai aktivitas harian tertinggi jaringan tersebut dalam lebih dari satu bulan.
Dari sisi teknikal, analis masih optimistis terhadap prospek ICP. Beberapa pihak melihat ada kemiripan dengan struktur harga bulan November 2025, sehingga jika momentum bertahan, aset ini bisa mencoba pergerakan naik serupa.
Ketika Internet Computer memasuki periode penting ini, pasar aset kripto akan memperhatikan apakah DFINITY benar-benar bisa menghadirkan perubahan ekonomi ini. Waktu mendatang akan membuktikan apakah reli harga ini menandakan perubahan yang bertahan lama atau hanya reaksi terhadap perkembangan yang sudah diantisipasi.
Harga Monero Capai All-Time High setelah Breakout 60 Persen, Ini Alasannya
Monero (XMR) melonjak ke rekor harga tertinggi baru pada hari Rabu, menembus level US$797 karena investor berbondong-bondong membeli aset kripto yang berfokus pada privasi. Reli ini menutup kenaikan selama sepekan yang mengangkat XMR lebih dari 50%, sehingga menjadi salah satu aset kripto dengan performa terkuat di pasar.
Kenaikan ini mendorong nilai pasar Monero di atas US$13 miliar dan sempat menempatkannya di jajaran 15 aset kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar. Volume transaksi juga melonjak karena pembeli berlomba-lomba mendapatkan eksposur.
Meningkatnya Permintaan untuk Privasi Keuangan
Pendorong utama reli ini adalah lonjakan permintaan privasi keuangan. Di berbagai pasar utama, regulator memperketat aturan KYC dan anti-pencucian uang. Hal ini membuat transaksi anonim semakin sulit dilakukan di sebagian besar blockchain.
Karena itu, semakin banyak pengguna beralih ke aset kripto yang menyembunyikan saldo wallet, jumlah transaksi, serta identitas pengirim. Monero tetap menjadi aset kripto terbesar dan paling teruji dalam kategori ini.
Monero Rekor Tertinggi Hampir US$800 pada 14 Januari | Sumber: CoinGecko
Secara paradoks, larangan dan pembatasan justru memicu reli alih-alih menghentikannya.
Pada awal pekan ini, regulator keuangan Dubai melarang exchange di Dubai International Financial Centre untuk melakukan listing atau mempromosikan privacy coin.
Selain itu, Uni Eropa sedang menyiapkan regulasi yang akan melarang akun kripto anonim dan privacy token mulai 2027.
Bukannya membunuh permintaan, langkah-langkah tersebut justru memicu aksi beli lebih awal. Investor ramai-ramai membeli aset privasi sebelum akses semakin terbatas.
Modal Berpindah dari Zcash
Monero juga diuntungkan dari gejolak di ekosistem Zcash.
Zcash, pesaing terdekatnya di ranah privacy coin, kehilangan momentum setelah terjadi perselisihan tata kelola dan keluarnya tim pengembang inti mereka.
Saat kepercayaan memudar, trader mengalihkan modal ke Monero yang dipandang lebih terdesentralisasi dan tidak terlalu bergantung pada satu foundation.
Pergeseran ini semakin memicu breakout XMR.
Monero juga berhasil melewati level resistance dalam beberapa tahun terakhir di grafik. Setelah menembus kisaran US$600–US$650, trader sistematik dan dana berbasis momentum ikut masuk ke pasar.
Minat di media sosial melonjak dan likuiditas pun meningkat. Hal ini menciptakan umpan balik pembelian yang mendorong harga mendekati US$700.
Drama CLARITY Act Dorong Reli
Debat kebijakan kripto di AS juga mungkin membantu narasi soal privasi.
Revisi CLARITY Act di Senat akan memperluas pengawasan finansial, memperkuat kewajiban pelaporan, dan memberi regulator akses lebih luas ke data transaksi di berbagai exchange dan platform DeFi.
Walaupun rancangan undang-undang ini tidak langsung menargetkan privacy coin, beleid itu memperkuat kekhawatiran bahwa aktivitas on-chain akan semakin mudah diawasi pemerintah.
Kondisi ini membuat aset yang menjaga privasi semakin menarik, bahkan bagi pengguna yang tidak melakukan aktivitas ilegal sekalipun.
Monero kini menghadapi resistance teknikal yang kuat di sekitar US$700. Koreksi jangka pendek kemungkinan terjadi setelah kenaikan tajam seperti ini.
Meski begitu, tren dasarnya sudah jelas. Ketika pemerintah memperketat pengawasan dan membatasi anonimitas, permintaan akan privasi keuangan terus naik. Untuk saat ini, Monero masih menjadi pihak yang paling diuntungkan di pasar.
Coinbase Tarik Dukungan untuk CLARITY Act setelah Senat Melakukan Revisi
CEO Coinbase Brian Armstrong mengungkapkan pada Selasa malam bahwa perusahaannya tidak bisa lagi mendukung versi RUU struktur pasar aset kripto di Senat AS setelah para legislator memperkenalkan perubahan besar pada CLARITY Act.
Ia menyampaikan bahwa draft Komite Perbankan Senat “merusak bagian-bagian penting dari struktur pasar” dan menciptakan risiko untuk saham tokenisasi, DeFi, stablecoin, serta pasar aset kripto yang terbuka.
CLARITY Act Baru Saja Berubah
Coinbase menarik dukungannya hanya beberapa jam sebelum Senat dijadwalkan untuk membawa RUU tersebut ke tahap markup komite.
Pada saat yang sama, terdapat laporan yang belum dikonfirmasi beredar di lingkungan Capitol Hill bahwa markup yang dijadwalkan untuk esok hari bisa saja dibatalkan setelah langkah Coinbase tersebut.
Laporan ini masih berupa rumor, namun menunjukkan risiko politik yang semakin besar seputar RUU ini.
Armstrong memaparkan ada empat kekhawatiran utama dalam pernyataannya. Pelarangan de facto terhadap saham tokenisasi berarti instrumen keuangan dan saham berbasis blockchain tidak bisa diperdagangkan secara bebas di infrastruktur aset kripto.
CEO Coinbase menilai bahwa RUU ini memperluas akses pemerintah terhadap data transaksi DeFi dengan mendorong protokol terdesentralisasi masuk ke dalam rezim Bank Secrecy Act dan anti pencucian uang.
Penting dipahami bahwa perubahan terbaru memperluas kendali SEC atas pasar aset kripto. Ini berpotensi membawa masalah era Gensler kembali ke industri ini.
Terakhir, ia menyebutkan bahwa draft ini memiliki ketentuan stablecoin dan perbankan yang mengizinkan bank untuk membatasi persaingan dan mengurangi insentif murni dari dunia kripto.
Apa yang Berubah di Rewrite Senat
Komite Perbankan Senat tidak melakukan voting pada CLARITY Act yang sudah disetujui DPR. Sebaliknya, mereka menggunakan penulisan ulang secara penuh yang dikenal sebagai “amendment in the nature of a substitute.”
Draft tersebut membuat beberapa perubahan besar dalam cara pengaturan pasar aset kripto di AS.
Berikut perbandingan sederhana mengenai apa saja yang berubah.
CLARITY Act Asli vs Penulisan Ulang oleh Senat
Coinbase merupakan exchange kripto teregulasi terbesar di Amerika Serikat dan menjadi salah satu suara paling aktif di dunia kebijakan industri ini di Washington.
Penarikan dukungan secara terbuka ini memberi sinyal pada para legislator bahwa RUU tersebut mungkin sudah tidak mendapat dukungan dari industri di momen krusial.
Hal ini penting karena Komite Perbankan Senat dan Komite Pertanian Senat memerlukan dukungan bipartisan untuk meloloskan RUU tersebut ke tahap berikutnya.
Apa yang Terjadi Selanjutnya untuk CLARITY Act?
Senat sebelumnya diperkirakan akan memulai markup komite pekan ini, yaitu saat para pembuat undang-undang secara resmi membahas dan melakukan voting atas amandemen.
namun, setelah pernyataan Coinbase tersebut, beberapa pihak yang dekat dengan kebijakan kini menyebut pimpinan mungkin akan menunda atau membatalkan markup guna menghindari kegagalan dukungan secara terbuka.
Untuk saat ini, RUU masih belum pasti. Tapi, persaingan seputar siapa yang mengendalikan aset kripto, stablecoin, dan DeFi di Amerika Serikat jelas sudah memasuki tahap yang paling rapuh sejauh ini.
Haruskah Pengguna Exchange Terpusat Khawatir dengan Kemajuan Deepfake?
Pemakaian alat berbasis AI yang makin marak untuk membuat konten deepfake telah memunculkan kembali kekhawatiran soal keamanan publik.
Ketika teknologi ini semakin canggih dan mudah diakses banyak orang, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keandalan sistem verifikasi identitas visual yang dipakai oleh exchange terpusat.
Pemerintah Bergerak untuk Membatasi Deepfake
Video-video yang menipu kini tersebar dengan cepat di berbagai platform media sosial, sehingga menambah kekhawatiran tentang gelombang baru disinformasi serta konten palsu. Penyalahgunaan teknologi ini yang makin meluas semakin merusak keamanan publik dan integritas pribadi.
Tingkat permasalahan ini kian meningkat, karena pemerintah di seluruh dunia mulai membuat undang-undang untuk melarang penggunaan deepfake.
Pada pekan ini, Malaysia dan Indonesia menjadi negara pertama yang membatasi akses ke Grok, chatbot kecerdasan buatan buatan xAI milik Elon Musk. Pihak berwenang mengatakan keputusan ini diambil karena kekhawatiran atas penyalahgunaan Grok untuk membuat gambar eksplisit seksual tanpa persetujuan.
Jaksa Agung California, Rob Bonta, juga mengambil langkah serupa. Pada hari Rabu, ia menegaskan bahwa kantornya sedang menyelidiki sejumlah laporan terkait gambar seksual tanpa persetujuan yang menampilkan orang sungguhan.
“Materi ini, yang menggambarkan perempuan dan anak di situasi telanjang dan eksplisit secara seksual, telah digunakan untuk melecehkan orang di internet. Saya mendesak xAI untuk segera bertindak agar penyebaran ini berhenti,” ujar Bonta dalam sebuah pernyataan.
Berbeda dengan deepfake generasi awal, alat-alat terbaru kini dapat merespons permintaan secara dinamis bahkan meniru gerakan wajah dan sinkronisasi ucapan secara alami dengan sangat meyakinkan.
Akibatnya, pemeriksaan dasar seperti mengedipkan mata, tersenyum, atau menggerakkan kepala bisa jadi tidak lagi cukup untuk memastikan identitas pengguna.
Kemajuan ini berdampak langsung bagi exchange terpusat yang mengandalkan verifikasi visual dalam proses onboarding pengguna.
Centralized Exchange di Bawah Tekanan
Dampak finansial dari penipuan berbasis deepfake kini bukan lagi sekadar teori.
Pengamat industri dan peneliti teknologi telah memperingatkan bahwa gambar maupun video hasil AI semakin sering digunakan, seperti dalam klaim asuransi dan kasus hukum.
Platform aset kripto yang beroperasi secara global dan kerap memakai proses onboarding otomatis bisa menjadi sasaran empuk jika langkah pengamanan tidak berkembang sejalan dengan teknologinya.
Ketika konten hasil AI semakin mudah dibuat, kepercayaan yang hanya mengandalkan verifikasi visual mungkin tidak lagi memadai.
Tantangan bagi platform kripto adalah bergerak cepat sebelum teknologi ini melampaui sistem perlindungan yang dibuat untuk melindungi pengguna dan infrastruktur mereka.
Whale Bitcoin Kembali ke Pasar Spot saat Harga Dekati US$100.000 Lagi
Bitcoin melesat menembus US$97.000 pada hari Selasa saat trader besar kembali masuk ke pasar spot setelah berminggu-minggu tekanan jual yang dipicu exchange-traded fund (ETF). Pergerakan ini kembali membuka peluang Bitcoin menuju level US$100.000, sekaligus menandakan adanya perubahan siapa yang sekarang mendominasi pasar.
Data on-chain dan derivatif terbaru menunjukkan reli ini tidak digerakkan oleh leverage dari ritel. Sebaliknya, whale mengumpulkan Bitcoin di spot, sementara trader kecil lebih banyak mengejar pergerakan lewat futures. Hal ini penting, karena reli yang dipimpin pembeli spot umumnya bertahan lebih lama.
Whale Sedang Membeli Sementara Retail Menggunakan Leverage
Grafik Futures Average Order Size dari CryptoQuant memperlihatkan pola yang jelas. Order besar, yang biasanya terkait dengan whale dan dana besar, meningkat seiring Bitcoin naik dari kisaran US$80.000-an menjadi di atas US$95.000.
Pada saat yang sama, transaksi kecil melonjak di pasar futures. Ini berarti trader ritel lebih banyak masuk melalui leverage, bukan pembelian spot.
Rata-rata Ukuran Order Futures Bitcoin | Sumber: CryptoQuant
Pemisahan ini penting. Pada puncak pasar sebelumnya, ritel biasanya memimpin dan whale melakukan penjualan. Kali ini, whale justru membeli lebih dulu. Ritel menyusul setelahnya.
Struktur seperti ini lebih sesuai dengan fase tren awal daripada fase akhir siklus.
Spot Buyer Dorong Reli dari US$84.000
Data CryptoQuant lainnya menunjukkan perubahan persentase harian harga Bitcoin, dari lonjakan merah besar di November menjadi klaster hijau yang stabil di Januari.
Perubahan ini mencerminkan tekanan beli yang nyata, bukan short squeeze. Ketika harga naik bertahap dengan koreksi yang dangkal, itu biasanya berarti permintaan spot berhasil menyerap pasokan.
Bitcoin reli dari sekitar US$84.400 ke lebih dari US$96.000 mengikuti pola tersebut. Tekanan jual yang mendominasi pada November kini sudah mereda.
Harga Bitcoin dan Perubahan Persentasenya | Sumber: CryptoQuant Reset ETF Membuka Jalan
Pada awal bulan ini, exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di AS kehilangan dana lebih dari US$6 miliar. Tekanan jual itu datang dari pembeli terlambat yang masuk setelah puncak Oktober dan keluar dalam keadaan merugi.
Bitcoin bertahan di kisaran harga dasar ETF, yakni sekitar US$86.000. Level ini berfungsi sebagai support. Setelah redeem memperlambat, harga mulai stabil.
Situasi ini membersihkan trader lemah dari pasar dan mengatur ulang posisi. Whale kemudian mulai membangun eksposur kembali di level harga lebih rendah.
Bitcoin Tidak Pernah Keluar dari Reli Bull Makro
Penurunan dari US$110.000 ke US$85.000 bukanlah akhir dari bull market. Itu adalah akhir dari fase spekulatif pertama.
Fase tersebut menguras leverage dan memaksa investor ETF keluar pasar. Setelah itu terjadi, muncul fase re-akumulasi ketika pihak kuat membeli saat harga bergerak sideways.
Sekarang, Bitcoin kembali masuk ke fase ekspansi. Harga mulai breakout saat modal baru mengalir masuk.
Bitcoin kini bertahan di atas US$95.000, sebuah level yang selalu membatasi reli sejak awal Desember. Breakout ini mengindikasikan kendali kembali ke pihak pembeli.
Jika whale terus memimpin di pasar spot, dan tekanan jual ETF tetap rendah, jalur menuju US$100.000 pun semakin terbuka. Upaya menuju rekor harga baru bisa saja tercapai bila permintaan terus meningkat.
Saat ini, data menunjukkan reli ini didorong oleh modal nyata, bukan leverage rapuh. Inilah fondasi terkuat Bitcoin dalam beberapa bulan terakhir.
Greenland Inc? Para Miliarder Teknologi di Balik Obses Trump pada Kutub Utara
Presiden AS Donald Trump telah mengangkat Greenland sebagai prioritas keamanan nasional. Tapi, di balik retorika ini, dorongan tersebut sangat erat terkait dengan kepentingan sektor teknologi Amerika.
Wilayah Greenland yang sangat luas, cadangan mineralnya yang melimpah, serta populasinya yang kecil membuatnya menarik sebagai pintu masuk ke sumber daya penting bagi industri maju. Dalam konteks ini, wacana Amerika untuk mengambil alih Greenland sepertinya tidak mengejutkan. Para miliarder teknologi Amerika juga menjadi pendukung finansial utama dalam kampanye Trump tahun 2024. Dukungan semacam ini jarang datang tanpa harapan imbal balik.
Mengapa Greenland Kembali Jadi Fokus Trump
Salah satu kali pertama Trump membahas Greenland terjadi pada Agustus 2019, saat masa kepresidenan pertamanya. Dalam sesi wawancara dengan para jurnalis, Trump mengonfirmasi bahwa dirinya sedang memikirkan ide tersebut, bahkan menyebutnya sebagai “transaksi properti besar.” Tapi saat itu, ia menegaskan bahwa rencana tersebut bukanlah prioritas utama.
Enam tahun berlalu, dan daftar prioritas Trump pun telah berubah.
Peristiwa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir sepertinya memang tidak mengejutkan. Selama kampanye pemilihan Trump di tahun 2024, Greenland sering disebut-sebut. Berulang kali, Trump menyebut pulau itu sebagai peluang yang telah terlewatkan.
Kemudian, sekitar satu bulan sebelum mulai menjabat, dia menyebut “kepemilikan dan kendali” Amerika atas Greenland adalah “sebuah kebutuhan mutlak.”
Keterikatan terhadap pulau ini bukanlah muncul tanpa sebab. Alih-alih jadi penggagas utama, Trump justru lebih pas disebut sebagai kendaraan politik bagi ambisi para pelaku teknologi yang sudah lama ada sebelumnya.
Ambisi Private Capital di Arktik
Selama satu dekade terakhir, campuran miliarder teknologi, dana modal ventura, dan startup spekulatif secara diam-diam membangun posisi di sekitar Greenland.
Ketika ambisi kelompok ini makin berkembang, Trump pun muncul sebagai sosok yang paling bersedia mengubah keinginan teknologi swasta jadi kebijakan negara.
Daya tarik terbesar Greenland terletak pada cadangan mineral rare earth yang sangat penting untuk perangkat elektronik modern. Sejak masa pertama Trump menjabat, tokoh seperti Bill Gates, Michael Bloomberg, dan Jeff Bezos menunjukkan minat konsisten terhadap wilayah tersebut.
Menurut Forbes, tiga miliarder tersebut telah berinvestasi di KoBold Metals sejak tahun 2019, tak lama setelah Trump pertama kali mengungkapkan minat pada Greenland. Investasi itu dilakukan melalui Breakthrough Energy, sebuah dana yang dipimpin oleh Gates.
Pada tahun 2022, Sam Altman, pendiri OpenAI ikut serta sebagai investor menggunakan perusahaan modal ventura miliknya, Apollo Projects. Laporan lain juga mengungkapkan bahwa perusahaan ini telah mendapat dukungan dari Mark Zuckerberg dan hedge fund Andreessen Horowitz.
Selain pertambangan, Greenland juga mulai menarik perhatian sebagai tempat eksperimen model tata kelola dan pembiayaan berbasis aset kripto.
Peter Thiel, sekutu lama Trump, telah mendukung Praxis. Startup ini, yang dipimpin CEO Dryden Brown, berniat membangun apa yang disebut “network state”.
Praxis telah secara terbuka menjajaki Greenland sebagai calon lokasi, serta berhasil mengumpulkan dana lebih dari US$525 juta untuk membangun kota baru yang berfokus pada regulasi yang lebih ringan dan aset dunia nyata yang ditokenisasi, sehingga menempatkan pulau ini sebagai wilayah depan untuk pengembangan kota berbasis kripto.
Saat Greenland kembali menjadi sorotan, berbagai pihak yang bergerak di sektor ekstraktif maupun eksperimental pun berlomba untuk mendapat akses.
Kenyataannya, jaringan kepentingan swasta itu kini tidak lagi terbatas di pinggiran saja. Sekarang, mereka bersinggungan langsung dengan lingkar kekuasaan Trump.
Investor Mana yang Punya Pengaruh Langsung pada Kebijakan?
Keterkaitan antara kepentingan bisnis yang berfokus pada Greenland dan lingkar pemerintahan Trump bahkan merambah ke dalam administrasi sendiri.
Beberapa orang yang memiliki hubungan dengan perusahaan yang bakal diuntungkan dari sumber daya Greenland, sekarang juga duduk di posisi yang secara langsung memengaruhi kebijakan AS.
Howard Lutnick, menteri perdagangan di pemerintahan Trump, sebelumnya memimpin Cantor Fitzgerald, perusahaan dengan hedge fund yang telah mendukung Critical Metals Corp, yaitu perusahaan yang sedang menjalankan proyek mineral yang terkait dengan Greenland.
Menurut laporan The New Republic, para investor di balik perusahaan ini juga punya keterkaitan besar dengan pendukung utama Trump Media. Banyak sosok itu juga mengalirkan ratusan juta US$ ke kampanye presiden terbaru Trump.
Penunjukan diplomatik AS pun telah menunjukkan konvergensi ini.
Bulan lalu, Trump menunjuk Ken Howery, mantan kapitalis ventura, sebagai duta besar AS untuk Denmark. Howery adalah mantan eksekutif PayPal dan telah lama menjadi rekan Peter Thiel serta Elon Musk, di mana mereka dulu bekerja sama erat pada awal berdirinya PayPal.
Seiring Greenland makin menjadi fokus strategis Washington, isu keamanan nasional nampaknya lebih tampil sebagai alasan publik daripada motivasi utama. Justru, dorongan terbesar berasal dari para miliarder yang sudah punya posisi kuat dengan kepentingan bisnis yang jelas di pulau tersebut.
SEC Izinkan Zcash Foundation saat ZEC Reli karena Kelonggaran Regulasi
SEC telah menyelesaikan peninjauannya terhadap Zcash Foundation dan memberitahukan kepada organisasi nirlaba tersebut bahwa mereka tidak berniat merekomendasikan tindakan penegakan hukum atau perubahan regulasi lain terkait kasus tersebut.
Keputusan ini menghapus ketidakpastian hukum yang telah membayangi Zcash selama lebih dari dua tahun.
Investigasi Selama Dua Tahun Berakhir
ZEC melonjak setelah kabar ini. Token tersebut diperdagangkan di kisaran US$440, naik sekitar 13% dalam sehari, dengan volume tinggi karena para trader memperhitungkan risiko regulasi yang lebih rendah.
namun, pergerakan ini juga terjadi setelah beberapa hari gejolak tata kelola intens di ekosistem Zcash, yang sebelumnya telah membuat harga token turun tajam.
SEC pertama kali menargetkan Zcash Foundation pada Agustus 2023 melalui surat panggilan resmi dalam investigasi luas bertajuk “Certain Crypto Asset Offerings.”
Lembaga ini mencari informasi tentang apakah pendanaan terkait Zcash, tata kelola, atau distribusi token bisa masuk dalam hukum sekuritas di AS.
Seperti banyak investigasi aset kripto pada periode itu, penyelidikan ini menyoroti apakah ada bagian dari proyek yang menyerupai penawaran sekuritas tanpa izin. Desain Zcash yang berfokus pada privasi dan adanya foundation di AS membuatnya mendapat perhatian ekstra.
Sekarang, lebih dari dua tahun kemudian, SEC menutup kasus tersebut tanpa merekomendasikan tuntutan, denda, atau perubahan kepatuhan.
Harga Zcash Reli Setelah Dapat Persetujuan Regulasi | Sumber: CoinGecko Kisruh Governance Melanda Zcash
Saat kasus regulasi masih berjalan diam-diam, Zcash menghadapi krisis baru bulan ini.
Pekan lalu, seluruh tim pengembang inti di Electric Coin Company (ECC) mengundurkan diri setelah perselisihan terbuka dengan Bootstrap Foundation, yang mengawasi tata kelola Zcash.
Pimpinan ECC menuduh dewan telah memberlakukan perubahan ketenagakerjaan dan tata kelola yang membuat pengembangan lanjutan menjadi tidak mungkin. Mereka menggambarkan situasi ini sebagai pemecatan konstruktif dan menyatakan akan terus mengembangkan teknologi privasi di luar struktur yang ada.
Kabar tersebut memicu penurunan harga tajam. ZEC turun lebih dari 20% dalam beberapa hari lantaran investor khawatir kepemimpinan protokol tidak berjalan.
sejak saat itu, stakeholder Zcash berupaya menegaskan bahwa blockchain ini tetap terdesentralisasi dan bisa berjalan normal.
Selain itu, tim tengah bertransformasi menjadi startup agar jaringan lebih mudah berkembang. Pengembang independen, operator node, dan miner tetap menjalankan jaringan ini.
Sementara itu, keputusan SEC menghilangkan ancaman regulasi besar terakhir bagi proyek ini.
Secara keseluruhan, perkembangan ini nampaknya telah mengubah sentimen pasar.
Harga Monero (XMR) Naik Melawan Tekanan Saat Satu Metrik Turun — Apakah US$880 Masih Mungkin?
Monero sedang mengalami reli yang sangat kuat. Harga XMR naik hampir 56% dalam tujuh hari terakhir, dan meskipun sudah sedikit koreksi, masih naik sekitar 2,7% dalam 24 jam terakhir. Saat ini harga XMR berada hanya 1–2% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa dekat US$721.
Jika kita lihat dalam jangka waktu lebih panjang, pergerakan ini terlihat makin impresif. Dalam tiga bulan terakhir, Monero telah naik sekitar 120%. Tren jelas naik, tapi pertanyaan utama sekarang sederhana saja. Apakah akan ada jeda sebelum kembali mencoba rekor tertinggi, ataukah “gravitasi” pasar mulai berperan lagi?
Harga XMR Melawan Gravitasi, tapi Modal Besar Nampaknya Berhenti
Pada grafik 12 jam, reli Monero terlihat agresif dan sangat rapi. XMR telah memperlihatkan rangkaian panjang candle hijau yang kuat, mengantarkan harga langsung menuju wilayah rekor tertinggi. Beginilah bentuk kekuatan harga saat penjual kesulitan memperlambat momentum.
Tapi harga hanyalah salah satu sisi cerita. Chaikin Money Flow, atau CMF, memberikan sudut pandang penting lainnya. CMF melacak apakah dana besar mengalir masuk atau keluar dari sebuah aset dengan mengombinasikan data harga dan volume. CMF yang naik mengindikasikan modal besar sedang aktif membeli. CMF yang datar atau turun memberi sinyal untuk lebih berhati-hati.
Saat ini, CMF tidak naik seagresif harga, jika kita menghitung periode awal November hingga 12 Januari. Grafiknya masih bertahan di bawah level 0,38, yang menjadi batas penting. Ini bukan berarti pemain besar sedang menjual. Artinya, mereka sekadar tidak ikut “mengejar” harga. Jika CMF mendatar saat reli tajam, itu seringkali isyarat modal besar sedang menunggu entry yang lebih baik atau konfirmasi yang lebih jelas.
Pergerakan Harga XMR | Sumber: TradingView
Ingin dapat insight token seperti ini? Daftar pada Newsletter Harian Editor Harsh Notariya tentang Kripto di sini.
Inilah ketegangan utamanya: harga bergerak naik melawan “gravitasi”, namun modal besar justru nampak hanya mengamati, bukan mempercepat. Selama CMF masih bertahan di dekat garis tren horizontal dan tidak turun tajam, tren naik masih utuh. Tapi agar reli ini bisa berlanjut dengan kuat, CMF perlu menembus 0,38 dan menunjukkan masuknya dana baru.
Sentimen Mengikuti Gravitasi saat Tekanan Beli Mulai Mendingin
Sementara harga XMR terus menanjak, salah satu metrik internal justru jelas mengalami penurunan. Skor sentimen positif Monero turun tajam, dari sekitar 102 menjadi 29 dalam waktu sekitar 24 jam, atau turun sekitar 72%. Sentimen positif mengukur seberapa optimistis pelaku pasar berdasar data sosial dan perilaku. Penurunan tajam menunjukkan antusiasme yang mulai mereda.
Sejarah menunjukkan ini layak untuk diperhatikan. Pada 9 November, sentimen positif sempat membuat puncak lokal di kisaran 62. Di waktu yang sama, harga Monero mencapai puncak sekitar US$440. Dalam dua minggu berikutnya, sentimen turun ke sekitar 15, dan harga XMR ikut turun ke sekitar US$324. Penurunan itu mencapai 26%.
Sentimen Anjlok | Sumber: Santiment
Saat ini keadaannya memang berbeda, tapi peringatannya mirip. Penurunan sentimen sekarang memang tajam, namun belum membentuk “low” baru. Risiko bakal meningkat jika sentimen turun di bawah 14, apalagi jika menembus angka 11. Untuk sekarang, ini lebih mirip penurunan sementara daripada benar-benar jatuh.
Data exchange spot juga memperkuat pandangan itu. Pada 13 Januari, sekitar US$5,77 juta XMR keluar dari exchange, tanda tekanan beli yang kuat. Tapi di 14 Januari, angka itu turun menjadi sekitar US$751.000, turun 87%. Hal ini mengindikasikan pembeli memang menahan diri saat sentimen mendingin. Tekanan jual belum melonjak, namun permintaan memang melambat.
Pembelian XMR Melambat | Sumber: Coinglass
Sederhananya, optimisme mulai mendingin dan pembeli sedang jeda.
US$880 Menang atau Gravity: Level Harga XMR yang Menentukan
Dengan harga yang tetap kuat, tapi sinyal internal yang campuran, level-level kunci kini semakin penting. Level pertama yang harus diawasi adalah zona rekor tertinggi US$721. Jika harga berhasil menembus dan bertahan stabil di atas zona tersebut, itu memberi sinyal pembeli masih memegang kendali.
Jika CMF mulai naik kembali, sentimen stabil, dan arus keluar spot meningkat lagi, target teknikal berikutnya berada di sekitar US$880. Dari level sekarang, itu setara potensi naik sekitar 25%. Dalam skenario itu, pembicaraan soal harga XMR sampai empat digit pun tidak lagi terasa mustahil.
Analisis Harga XMR | Sumber: TradingView
Skenario risiko juga sama jelasnya. Jika CMF berbalik arah bukannya breakout ke atas, sentimen turun di bawah 14, dan pembelian spot terus melemah, maka tekanan jual akan semakin berat. Dalam situasi ini, US$590 menjadi batas utama untuk harga Monero. Jika tetap bertahan di atas US$590, tren naik secara keseluruhan masih terjaga dan bisa terjadi konsolidasi. Tapi jika turun di bawah level itu, risiko koreksi yang lebih dalam akan meningkat, mirip dengan koreksi-koreksi sebelumnya.
Saat ini, Monero masih unggul. Harganya kuat, strukturnya masih solid, dan penjual tetap terkendali. Tapi, tekanan jual sudah mulai terasa. Apakah XMR akan naik ke US$880 berikutnya, hanya bergantung pada satu hal. Apakah modal dan keyakinan akan kembali?
A további tartalmak felfedezéséhez jelentkezz be
Fedezd fel a legfrissebb kriptovaluta-híreket
⚡️ Vegyél részt a legfrissebb kriptovaluta megbeszéléseken